Sejarah Peradaban Islam Pra Islam dan Pasca Islam

  Sebelum Islam datang, kita mengetahui masyarakat bangsa arab mengalami sebuah fase yang dimana fase itu dianggap sebuah fase yang tidak memiliki nilai-nilai moral , karena pada fase itu kehidupan manusia sangat semrawut melakukan apa saja yang dikehendakinya tanpa terikat dengan aturan yang  pasti, fase itu kita kenal dengan zaman jahiliah. 

Disebut jahiliah karena di fase itu manusia bisa dikatakan hidup dengan hasrat atau hawa nafsu yang membabi buta tanpa menggunakan akal dan fikiran mereka, padahal seperti yang kita ketahui bahwa akal dan nafsu harus saling sinkron sebagai instrumen dalam melakukan sesuatu.

Ketika Nabi Muhammad lahir (570M) Mekah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota  di negeri arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Dengan adanya Ka'bah di tengah kota,  Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. 

Ka'bah adalah tempat mereka berziarah. Mekah keliatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan reakita skesukuan jazirah arab .


A. Peradaban Masyarakat Arab Pra Islam

Pada masa sebelum kedatangan Islam, di arab dikenal dengan zaman jahiliah. Periode jahiliyah ini dalam Islam, adalah masa yang tidak mengenal agama tauhid yang membuat moralitas mereka menjadi minim(Suara Muslim).

Pada saat itu, masyarakat arab memiliki kebiasaan buruk seperti minum minuman keras, berjudi, berzina dan menyembah berhala. Bangsa arab telah menganut berbagai macam  agama, akhlak, adat istiadaat, dan aturaan sebelum Islam datang. Agama Islam bertemu dengan agama jahiliah.

Islam datang dengan membawa peradaban atau pembaharuan di berbagai bidang termasuk akhlak, hukum, serta aturan hidup. Kedua kepercayaan ini saling berbenturan dala waktu yang lama. 

Butuh waktu yang sangat lama, untuk Islam dapat diterima di kalangan masyarakat arab, karena keadaaan jahiliah telah melekat pada keseharian mereka, doktrin-doktrin jahiliah telah tertanam kuat di nati mereka, sehingga sangat sulit untuk melepas kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. 

Namun dengan beriringnya waktu, Islam mulai meluas dan secara perlahan Islam dapat diterima di kalangan masyarakat arab, karena ajaran agama islam lebih relevansi dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu Islam mulai masuk di kalangan arab dan kebiasaan jahiliyah pun mulai terkikis karena masuknya Islam.

Islam datang di kalangan masyarakat arab bukan berarti menghilangkan semua kebiasaan masyarakat arab ataau sistem yang ada, tetapi islam datang memperbaiki kebisaan-kebiasaan sebelumnya, karena tidak semua dari kebiasaan mereka bernilai negatif, banyak kebiasaan merekaa juga dianggap positif, seperti erat nya huungan dalam satu suku, mereka faham tentang keadaan politik atau suatu pemerintahan, mereka juga jago dalam berniaga dan mengembala.

Memahami Sosial Budaya Masyarakat Arab Pra Islam


Semenanjung Arab merupakan semenanjung terbesar di dunia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari gurun pasir dan stepa. Badri Yatim dalam Historiografi Islam memaparkan, menurutpernyataan para sejarawan, semenanjung arab pernah di tempati  

Pertama, yang dikenal dengan dengan sebutan Arab Ba"idah, yaitu bangsa-bangsa Arab yang menempati semenanjung arab jauh sebelum Islam datang.

Menurut Philip K. Hitti dalam History of the Arab, di antara fenomena sosial yang menonjol dalam ehidupan msyarakat arab adalah kebanggaan terhadap kelompoknya masing-masing. 

Sistem sosial mereka dalam memperhitungkan keturunan mengikuti garis bapak atau petriakal , sehingga di setiap akhir nama di ikuti dengan penyebutan nama bapaknya. Hal ini menunjukkan kebanggan terhadap nenek moyang dan dari kabilah apamereka berasal. Suatuu kabilahberdiri sebagai pemerintahan kecil yang politiknya berasal dari kesaamaan fanatisme.

Untuk mengawali mana rumpun mereka menggunakan gelar banu. Setiap anggota kabilah menganggap keluarga berdarah satu sama lainnya.  Sehingga kekayaan alam yang berada di sekitarnya seperti air, rumput, ladang dan sebagainya adalah milik bersama. Ikatan keluarga dan kekerabatan suku tersebut sangat kuat. Adalah musibah paling besar bagi mereka dengan putusnya keanggotaan dengan sukunya.

Tidak ada istilah raja bagi orang-orang Arab pra Islam kecualii untuk merujuk pada penguasa-penguasaasing. Syekh adalah sebutan sebutan bagi setiap ketua klan yang dipilih ddari anggota senior dalam klannya yang bijak dalam wejangannya dan berani serta pemurah. Ada pun dalam masalah militer daan hukum, ia harus berkonsultasi dengan dewan suku dan tidak memilikiotoritas mutlak.

Di atas merupakan historis dari masyarakat arab pada zaman jahiliah, dimana mereka saling mencari eksistensi atas suku mereka masing-masing, dengan rasa cinta terhadap suku mereka dan saling membangga-banggakan suku mereka. Di setiap suku terdapat sejumlah aturan-aturan yang bersifat menyeluruh secara otonom pada masing-masing suku.



B. Peradaban Masyarakat Arab Pasca Islam

Riwayat hidup Nabi Muhammad SAW


Secara esensial, kehadiran Nabi Muhammad pada masyarakat Arab adalah terjadinya kristalisasi pengalaman baru pada dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segalah aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu.

Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun Gajah, tahun dimana ketika pasukan Gajah Abraham menyerang Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Namun pasukan Abraham mengalami kehancuran.  Peristiwa itu kira-kira terjadi pada tahun 570 M (12 Rabiul Awal). Nabi Muhammad di percayakan oleh Halimah dari suku Banu Sa’ad untuk diasuh dan dibesarkan hingga nabi berusia 6 tahun. Pada usia 6 tahun, Nabi Muhammad telah kehilangan kedua orang tuanya. Setelah Aminah ibu Nabi meninggal, Abdul Muthalib kakek Nabi mengambil tanggung jawab merawat Nabi. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena rentan.

Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada paman Nabi, Abu Thalib. Sang paman sangat disegani dan dihormati dikalangan orang quraisy dan penduduk Makkah secara keseluruhan, walaupun dia miskin. Dalam usia muda, Nabi Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah . Sejak kecil, nabi hidup mandiri, tidak cengeng, jujur, disiplin, sabar, pemaaf dan tidak pendendam, sopan, ramah, sayang kepada semua orang, berbakti kepada orang tua dan patuh kepada Allah. Kegiatan ini membuatnya jauh dari segalah nafsu duniawi, sehingga dia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya. Oleh karena itu sejak muda Nabi sudah dijuluki al-amin (orang yang terpercaya). Bukan hanya di juluki sebagai al-amin, nabi juga adalah seorang yang bijaksana. Peristiwa penting yang memperlihatkan  kebijaksanaan Nabi  Muhammad terjadi pada usianya yang ke 35 tahun. Waktu itu bangunan ka’bah rusak berat. Perbaikan ka’bah di lakukan secara gotong royong. Para penduduk Mekkah membantu perkerjaan itu dengan suka rela. Tetapi pada saat terakhir, ketika pekerjaan tinggal mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula, timbul perselisihan. Setiap suku merasa berhak melakukan tugas terakhir dan terhormat itu.

Perselisihan semakin memuncak, akhirnya para pemimpin quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk Ka’bah melalui pintu Shafa akan di jadikan hakim untuk memutuskan perkara ini, ternyata orang yang pertama masuk adalah Nabi Muhammad. Ia pun akhirnya di percaya menjadi hakim. Ia lantas membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tegah, lalu meminta kepada seluruh kepala suku memegang tepi kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu, Nabi Muhammad kemudian meletakan batu itu pada tempat semula. Dengan demikian perselisihan dapat di selesaikan dengan bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian seperti itu.

Pada usia baru beranjak 12 tahun Nabi Muhammad melakukan perjalanan (usaha) untuk pertama kali dalam khalifah dagang ke siria (syam). Khafilah itu di pimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini di Bushra sebelah Selatan Siria ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad sesuai denga pentunjuk cerita-cerita Kristen.

Ketika Nabi Muhammada berusia 25 tahun, ia berangkat ke Siria membawa barang dagangan seorang saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini, Nabi Muhammad memperoleh laba yang sangat besar. Khadijah kemudian melamar Nabi, ketika itu Nabi Muhammad berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun . Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebar Islam.

Perkawinan Nabi dengan khadijah dikaruniai enam orang anak, dua putra dan empat orang putri ialah: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Dua putranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal ketika Nabi Muhammad berusia 50 tahun.


Masa Kerasulan

  Beberapa kilometer di Utara Makkah, pada tanggal 17 ramadhan 611 M, Di Gua Hira malaikat Jibril muncul di hadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah yang pertama. Pada usia Nabi yang menjelang 40 tahun itu Allah telah memilih Muhammad sebagai Nabi. Pada wahyu kedua Nabi di perintahkan untuk menyeru manusia kepada satu agama.

Pada saat beliau tidur dan terbangun tiba-tiba ia ketakutan yang luar biasa, seluruh tubuhnya, seluruh diri batinnya, dicengkram oleh sebuah kekuatan yang sangat besar, seolah –olah seorang malaikat telah mencengkram beliau dalam pelukan yang menakutkan yang seakan mencabut kehidupan dan nafas darinya.ketika beliau berbaring disana,beliau mendengar perintah,”Bacalah!”.

Ketika itu beliau protes bahwa beliau adalah buta huruf, hingga turunlah ayat yang pertama yaitu surah al alaq ayat 1 sampai 5.

Bacalah dengan (menyebut )nama tuhanmu yang menciptakan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah,dan tuhanmulah yang maha pemurah

Yang mengajar (manusia)dengan perantaraan kalam

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Dengan turunnya wahyu pertama itu juga sekaligus menunjukan bahwa Muhammad telah dipilih atau lebih tepatnya diangkat oleh Allah sebagai Nabi.  Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak lagi muncul lagi untuk beberapa lama sementara nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu kedua yang membawa perintah kepadanya, yaitu surah Al-Mudatsir ayat 1-7 yang berbunyi: Setelah turunnya wahyu itu, juga sekaligus menjadi perintah bagi Nabi untuk mulai berdakwah.

Fase Makkah

Kota Makkah terletak diperut lembah, yang dikelilingi oleh bukit-bukit dari segala arah, dari sebelah timur membentang bukit Abu Qubais (Jabal Abu Qubais) dan dari barat dibatasi oleh dua bukit (gunung) Qa’aiqa’ dan keduanya berbentuk bulan sabit mengelilingi perkampungan Makkah. Dan dikenal bagian yang rendah dari lembah tersebut dengan Al-Bathhaa’ yang ada padanya Ka’bah dan dikelilingi oleh rumah-rumah orang Quraisy, sedangkan bagian yang tinggi dikenal dengan Al-Mu’alaah dan pada bagian ujung-ujung kedua bukit yang berbentuk bulan sabit tersebut dibangun rumah-rumah sederhana milik orang Quraisy Dzawaahir yaitu orang-orang pedalaman (A’rob) Quraisy yang miskin dan merupakan serdadu-serdadu perang.

Makkah adalah lembah yang sangat tandus kondisi geografis seperti inilah berpengaruh besar dalam membentuk sikap dan watak masyarakatnya. Pada umumnya penduduk Makkah bertempramen buruk dan tidak mampu berpikir secara mendalam. Ditambah dengan sistem politik di Makkah, yang dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy untuk mempertahankan jabatan, kedudukan atau kekuasaan mereka. Sehingga hal itu juga berpengaruh pada watak dan perilaku mereka yang cenderung lebih agresif, egois, keras kepala serta tidak mudah bagi mereka untuk dapat menerima pendapat atau keyakinan orang lain.

Sebelum masa masuknya Islam kebanyakan kaum Arab beribadat dengan cara melakukan penyembahan berhala dan mereka menjadikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan mereka, hal tersebut bisa dikatakan sudah cukup lama berlangsung sampai akhirnya Nabi Muhammad datang dan membawa keyakinan lain yaitu ketauhidan.

Tentunya hal tersebut tidak semerta-merta dapat dengan mudah diterima bahkan ditolak habis-habisan oleh kaum kafir Quraisy. Banyak alasan bagi mereka untuk menolak keyakinan yang dibawa oleh Nabi Muhammad tersebut, salah satunya adalah apa yang mereka yakini adalah sesuatu  yang telah lama mengakar dan menjadi keyakinan mereka serta nenek moyang mereka. Sehingga keyakinan tersebut sudah tertanam kuat dalam keyakinan mereka. Para pemahat serta penjual atau patung merasa datangnya Islam akan menghalangi mata pencaharian mereka. Karena tentunya jika Islam menyebar maka mereka akan kehilangan mata pencaharian mereka, yang mana sangat bergantung pada apa yang diyakini masyarakat pada masa itu. Kemudian kaum Quraisy juga tidak setuju dengan seruan Nabi Muhammad Saw. tentang persamaan hak antara hamba sahaya  dan bangsawan. Intinya Nabi Muhammad Saw ingin menghapuskan sistem perbudakan yang telah lama berjalan kaum Quraisy juga menolak ajaran tentang kebangkitan dan pembalasan hari akhir.

Karena reaksi keras dari kaum Quraisy itulah yang tentunya menghambat dakwah nabi Muhammad Saw. karena tentunya akan beresiko sekali dan bahkan mengancam keselamatan dan nyawa Nabi sehingga pada akhirnya Nabi harus melakukan sistem dakwah yag lain. Dakwah  Nabi  Muhammad Saw. dilakukan dengan dua cara pertama yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi dan terbuka.

a. Dakwah secara rahasia/sembunyi-sembunyi (awal kerasulan)

Dengan turunnya perintah itu mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam- diam di lingkungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang pertama kali yang menerima dakwanya adalah keluarga dan sahabat. Seorang demi seorang diajak agar mau meninggalkan agama berhala dan hanya mau menyembah Allah yang Maha Esa. Usaha yang dilakukan itu berhasil. Orang-orang yang mula-mula beriman adalah:

Istri beliau sendiri, Khadijah

Kalangan pemuda, Ali Ibn Abi Thalib dan Zaid Ibn Harits.

Dari kalangan budak, Bilal.

Orang tua/tokoh masyarakat, Abu Bakar Al-Shiddiq.

Setelah Abu bakar masuk islam, banyak orang-orang yang mengikuti untuk masuk agama islam. Orang-orang ini tekenal dengan julukan Al-Sabiqun al-Awwalun, orang yang terdahulu masuk islam, seperti: Utsman Ibn Affan, Zubair Ibn awwam, Talhah Ibn Ubaidillah, Fatimah binti khathab, Arqam Ibn Abd. Al-Arqam, dan lain-lain. Mereka itu mendapat agama islam langsung dari Rasulullah sendiri

Dakwah secara terbuka (Pertengahan Kerasulan)

Setelah beberapa lama berdakwa secara individual turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwah secara terbuka dan langkah berikutnya ialah berdakwa secara umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada islam secara terang-terangan. Dalam memulai dakwah nabi banyak mendapatkan halangan dari pihak kafir quraisy mekah dan berbagai bujuk rayu yang dilakukan kaum quraisy untuk menghentikan dakwah nabi gagal.

Semakin bertambahnya jumlah pengingkut Nabi semakin keras tantangan yang di lancarkan kaum quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima faktor yang mendorong orang-orang quraisy menentang seruan Islam ialah:

Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dengan kekuasaan.

Nabi muhammmad menyeruh kepada hak bangsawan dengan hambah sahaya.

Para quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat

Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat berakar pada bangsa arab

Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.

Tindakan – tindakan kekerasan secara fisik yang sebelumnya pernah dilakukan semakin ditingkatkan. Berbagai cara dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy agar Nabi menghentikan dakwahnya, saat itu mereka tidak berani melukai Nabi karena perlindungan dari pamanya Abi Thalib yang sangat disegani dikalangan masyarakat saat itu.

Para pengikut Nabi yang juga termasuk kalangan bangsawan terselamatkan dari siksa kaum Quraisy saat itu, dan bagi mereka yang tidak memiliki perlindungan, harus menahan siksa yang pedih dari kaum Quraisy saat itu. Nabi juga mendapatkan jalan buntu dalam dakwahnya. Intinya Nabi dan para pengikutnya mendapat hambatan serta siksaan baik secara fisik dan mental dari kaum Quraisy saat itu.

Sehingga kemudian Nabi memutuskan untuk menyebarkan dakwahnya di wilayah lain dengan harapan dakwahnya akan berkembang dengan pesat alasan lainnya adalah untuk menghindari serangan dari pemuka-pemuka Quraisy saat itu. Namun ternyata harapan dan perkiraaan Nabi salah besar, ketika Nabi memutuskan untuk menyebarkan Islam di Thaif, reaksi yang didapat sama dengan reaksi yang biasa nabi dapat di Makkah. Di Thaif Nabi diejek, disoraki, dan dilempari batu, akhirnya Nabi memutuskan kembali ke Makkah. Sampai-sampai ketika Nabi berjalan kembali ke Makkah orang Thaif membuntuti Nabi sambil melemparinya dengan batu sampai terluka di bagian kepala dan badannya. Ternyata apa yang diharapkan dan perkirakan  Nabi tidak terwujud dan ini semakin menyurutkan semangat Nabi, karena Nabi juga telah mengalami peristiwa yang cukup menyedihkan yaitu meninggalnya dua sosok penting dalam hidupnya yaitu pamanya Abu Thalib dan juga istrinya sayyidatina Khadijah.

Tatkala banyaknya tekanan dari berbagai pihak nabi saw mengalami kesedihan yang mendalam  sehingga allah menghibur hati baginda rasul saw dengan terjadinya isra’dan mi’rajnya nabi muhammad saw.

Setelah peristiwa isra’dan mi’rajnya, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam muncul. Perkembangan itu diantaranya datang dari sejumlah penduduk yatsrif yang berhaji ke Mekah. Jamaah haji yang datang dari yastrib berjumlah 73 orang, atas nama penduduk yastrib, mereka meminta muhammad saw dan muslimin mekah agar berkenan  pindah ke yastrib.

Dalam perjalanan ke yastrib, nabi ditemani oleh abu bakar ash-siddiq. Sementara itu, penduduk yastrib  menunggu-nunggu kedatangannya. Ketika nabi saw datang, mereka menyambut nabi dan kedua sahabatnya dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap nabi, nama kota yastrib diubah menjadi madinatun nabi. Kejadian itu disebut dengan “hijrah”.

Fase Madinah / Pembentukan Negara Madinah (Akhir Masa Kerasulan)

Nabi Muhammad meninggalkan rumahnya pada malam 27 Shafar tahun ke-14 dari kenabian atau 12 September 622 M. Peristiwa hijrah Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah merupakan kehendak dan perintah Allah Swt dengan tujuan agar penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menjadi lebih pesat lagi. Selama 13 tahun Rasulullah berdakwa ajaran Islam di mekkah, Nabi Muhammad telah banyak mengalami pertentangan dan permusuhan. Namun Madinah merupakan kota yang penduduknya lebih mudah menerima ajaran Rasulullah dari pada penduduk  Mekkah. Masyarakat Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammmad dengan suka cita, orang-orang Madinah berbondong-bondong memeluk Islam.Oleh karena itu islam lebih cepat berkembang di madinah.

Penduduk Madinah yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, dan nonmuslim tersebut, merupakan sebuah keberagaman yang ada pada masa lalu dan sudah menjadi suatu hal yang tidak bisa lagi dipungkuri eksistensinya. Tapi bukan hal itu yang akan digaris bawahi, yang terpenting adalah jiwa sosialis masyarakat madinah sangat tinggi. Ini terbukti dari persaudaraan yang tinggi dan sangat kokoh. Tidak ditemukan konflik karena masalah perbedaan. Kalaupun ada masalah itu dengan cepat segara terselesaikan, karena nabi sangat bijak dalam hal itu dan sangat hati-hati terhadap peletakan sebuah nilai kemasyarakatan.

Nabi berhasil membentuk sistem yang luar biasa bagus. Masyarakat Madinah merasa bahwa dirinya itu satu. Maka dari itu, apabilah ada satu yang sakit maka yang lain turut merasakan. Hal ini lebih khusus lagi pada umat Muslim sendiri, di mana sudah menjadi kewajiban di setiap Muslim sebagaimana dalam riwayat Nabi seringkali memerintahkannya.

Ada beberapa teradisi yang yang perlu digaris bawahi:

Silaturahim yang membudaya

Gotongroyong sering diadakan demi kepentingan bersama

Kepedulian yang tinggi, mengunjungi orang yang sedang sakit atau yang terkena musibah.

a. Aspek Politik dan Pemerintahan

Selain menjadi pemimpin agama Islam, Nabi Muhammad juga menjadi pemimpin pemerintahan. Kalau sekarang beliau selayaknya sebagai presiden. Nabi terkenal dengan kebijaksanaannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Kepentingan umum lebih dikedepankan dari kepentingan-kepentingan yang lain.

Adapun sistem pemerintahan yang digunakan Nabi yaitu sistem musyawarah dan demokrasi dan yang terpenting adalah perkara diputuskan dengan seadil-adilnya. Sehingga Golongan yang berbeda merasa tenang karena tidak ada diskriminasi. Mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada permusushan dengan yang lain. Keberagaman yang ada tidak menjadi persoalan, justru mengkokohkan solidaritas di antara mereka.

Memang pada kebijakan politik yang pertama oleh Nabi adalah bagaimana menghapus prinsip kesukuan dan mempererat persatuan. Nabi benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk masyarakat, sehingga berhasil mendamaikan antar suku Auz dan Khazraj. Perlu diketahui ada beberapa strategi yang dilakukan Rasulullah, dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru yang telah terbentuk.

Adapun strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pembangunan masjid

Masjid di zaman Nabi, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga sebagi tempat mempersatukan kaum Muslimin, musyawarah, bahkan menjadi pusat pemerintahan. Nabi mengadakan perjanjian dengan non-Muslim dengan harapan tidak ada yang merasa diskriminasi. Dari sinilah kemudian muncul nama Piagam Madinah.

Kemiliteran

Nabi adalah pemimpin negara tertinggi tentara Muslim. Beliau turut terjun dalam 26 atau 27 peperangan dalam ekspedisi. Bahkan Nabi sendiri yang memimpin beberapa peperangan yang besar misalnya, perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq, perang Hunayn dan dalam penaklukkan kota Makkah. Adapun peperangan ekspedisi yang lebih kecil pimpinan diserahkan kepada para komandan yang ditunujuk oleh Nabi.

Di kala itu, peraturan kemiliteran belum dikenal. Akan tetapi moralitas dan kedisiplinan yang tinggi membuat mereka tertata di bawah satu komando yaitu Nabi. Ketika ingin menghadapi peperangan Nabi kerapkali mengundang para sahabat (Tokoh-tokoh) untuk berdiskusi mengenai hal tersebut.

Dalam perkembangannnya pasukan kemiliteran umat Islam makin meningkat. Pada awalnya pasukan umat Islam hanya berjumlah 313 pejuang. Hingga pada perang terakhir di Uhud, pasukan umat Islam sudah mencapai 30.00 pejuang. Para pejuang tersebut memiliki keahlian yang cukup baik dan disiplin yang tinggi.

Dakwah

Pada periode Madinah Nabi memiliki sedikit kemudahan dalam mengenalkan Islam. Itu dikarenakan masih banyak penduduk Madinah yang menganut agama samawi. Dapat kita lihat ketika Nabi memasuki Madinah, beliau mendapat penyambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Ada beberapa strategi dakwah yang dilakukan oleh Nabi, yaitu sebagai berikut:

Membina masyarakat Islam melalui pertalian persaudaraan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar

Memellihara dan mempertahankan masyarakat Islam

Meletakkan dasar-dasar politik ekonomi dan sosial untuk masyarakat Islam.

Dengan diletakannya dasar-dasar yang berkala ini masyarakat dan pemerintahan Islam dapat mewujudkan nagari “ Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur “ dan Madinah disebut “ Madinatul Munawwarah”.

Dari sistem yang telah diterapkan Nabi tersebut, hampir tidak mendapat penolakan dari masyarakat Madinah, karena nilai-nilai yang diletakkan Nabi bersifat universal, walau pada hakikatnya nilai-nilai tersebut termaktub dalam Islam. Contohnya berbuat adil, saling menolong, larangan curang dalam berdagang, dan lai-lain.

Perkembangan Islam juga tidak terlepas dari peranan moral Nabi yang begitu mulia dan sangat bijak dalam memutuskan sebuah perkara. Sehingga tidak sedikit kasus yang telah diselesaikan. Bahkan ketika ada perselisihan antar suku, Nabi selalu mendapat undangan untuk memberikan jalan keluar.

b. Kondisi Perekonomian Madinah

Kekayaan Madinah nyaris secara keseluruahan terkonsentarasi di tangan orang-orang Yahudi. Jadinya orang-orang Arab (Anshar) hidup dalam kemiskinan dan kekurangan selama bertahun-tahun. Salah satu alasan mengapa mereka begitu miskin adalah dikarenakan harus memabayar bunga pinjaman mereka yang cukup tinggi kepada orang-orang yahudi.

Kaum Anshar memang berada dalam lembah kemiskinan, akan tetapi Kaum Muhajirin lebih miskin lagi. Karena mereka hijrah tanpa membawa harta benda, barang berharga ditinggalkan di Makkah. Semakin hari kehidupan kaum Muhajirin memprihatinkan. Pada perjanjian awal kaum Muhajirin harus membantu untuk bercocok tanam, namun mereka tidak berpengalaman dalam hal itu, sehingga mereka harus bekerja sebagai buruh kasar di kebun milik orang Yahudi dan Ansar. Misalnya menebang pohon, menyiram pohon, dan lain-lain.

Nabi kemudian memberikan solusi kepada kaum Muhajirin untuk dipersaudarakan dengan kaum Anshar. Mereka harus saling membantu dan bekerja sama. Peristiwa ini terjadi selang beberapa bulan kedatangan Nabi di Madinah. Ada beberapa orang yang dipersaudarakan, di anataranya sebagai berikut:

Amar bin Yasir (Muhajirin) dengan Huzaifah al-yamani (Anshar)

Abu bakar dengan Kharjah bin Zaid

Utsman bin Affan dengan ‘Aus bin Sabit

Umar bin Khattab dengan Utbah bin Malik

Abu Dzar al-Ghiffari dengan al Mundzir bin Amr

Mus’ab bin Umair dengan Abu Ayyub

Abu Ubaidah Amir al-Jarrah dengan Sa’ad bin Ma’az

Zubair bin al-Awwam dengan Salam bin Waqash

Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’

Thalhah bin Ubaidillah dengan Ka’ab bin Malik

Sementara itu Ali tidak dipersaudarakan dengan siapa pun, namun Ali patut berbangga, karena Nabi mengatakan engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya masalah perekonomian yang menyiksa bathin mereka telah terlewatkan. Berjalannya hari kaum Anshar dan Muhajirin menjadi makmur. Bahkan kekayaan Muhajirin melebihi kekayaan kaum Anshar. Hal ini bukanlah sesuatu yang buruk, namun  yang sangat menyedihkan setelah wafatnya Nabi Saw, kaum Muhajirin menaruh barisan kaum Anshar berada dibelakang barisan mereka. Ini karena adanya penyusut dari Bani Umayyah yang menyamar menjadi kaum Muhajirin. Sebagaimana telah diketahui kaum Anshar adalah musuh Bani Umayyah.

c. Sumber-sumber Keuangan Negara

Beliau mendirikan lembaga kejayaan masyarakat di Madinah. Terdapat lima sumber utama pendapatan Negara Islam, yaitu (i) Zakat, (ii) Jizyah (pajak perorangan), (iii) Khraj (pajak tanah), (iv) Ghanimah (hasil rampasana perang), (v) al-fay’ (hasil tanah Negara).

Setelah tiba dan diterima penduduk yastrib (madinah) nabi muhammad saw resmi sebagai peminpin kota itu. Dengan terbentuknya negara madinah, islam makin bertambah kuat.perkembangan islam yang pesat itu membuat orang-orang mekah dan musuh-musuh islam lainnya menjadirisau. Untuk menghadapi gangguan dari musuh, nabi mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara.

Pada tahun 9 dan 10 hijriah banyak suku dari pelosok arab mengutus delegasinya kepada nabi muhammad saw menyatakan ketundukan mereka. Masuknya orang mekah kedalam agama islam rupanya mempunyai pengaruh yang sangat besar pada penduduk padang  pasir. tahun itu disebut dengan tahun perutusan. Persatuan bangsa arab telah terwujud, peperangan antara suku yang beralangsung sebelumnya telah berubah menjadi persaudaraan seagama.

Setelah  itu nabi muhammad saw segera kembali ke Madinah. dua bulan setelah itu, nabi menderita sakit demam, tenaganya dengan cepat berkurang. P ada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 11 H/8 juni 632 M, Nabi muhammad saw wafat dirumah istrinya A’isyah.


 

Komentar